MUDZAKARAH ULAMA

ومن الناس والدّواب والانعم مختلفٌ الونه كذلك انما يخشى الله من عباده العلماء انّ الله عزيزٌ غفورٌ ـ

Rabu, 10 Juni 2009

Titik Temu Antara Ilmuwan dan al Ulama

Sering kita jumpai pertanyaan dari beberapa orang yang ingin mengetahui apa perbedaan dan persamaan makna dari istilah Ilmuwan dengan Ulama. Apakah Ilmuwan hanya sebutan khusus untuk para ahli ilmu alam (eksakta) sedangkan Ulama sebutan untuk para ahli Ilmu Agama (baca:Dinul Islam)? Apakah telah terjadi berbagai pergeseran atau penyempitan makna, sehingga terjadi dikotomi keduanya? Adapula yang menganggap bahwa al ulama hanyalah orang-orang yang hanya mengurusi rutinitas ibadah pokok (makhdo) dalam rukun Islam dengan menafikan masalah lainya. Sehingga mereka menganggap para ulama tidak punya ilmu dan kemampuan dalam mengentaskan masalah pembangunan peradaban dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.Bukankah dimensi ibadah itu tidak hanya terbatas masalah rukun Islam yang lima perkara saja.

Untuk mencari kejelasannya, berikut ini kami ulas permasalahannya. Mudah-mudahan dapat membantu kita menyibak makna yang sebenarnya. Kita mencoba dengan menggali akar katanya, lalu menelusuri darimana munculnya.

1. Definsi Ilmuwan

Definisi Ilmuwan ialah orang yang bekerja dan mendalami dengan tekun dan sungguh-sungguh dalam bidang ilmu pengetahuan. Para ilmuwan bisa bekerja dalam bidang ilmu pengetahuan yang berbeda. Di sini diberikan beberapa contoh: Mereka yang belajar fisika ialah fisikawan. Yang belajar kimia ialah kimiawan. Yang belajar biologi ialah biolog. (sumber: id.wiktionary.org).

Dari definsi di atas jelas bahwa arahnya hanya kepada para ahli ilmu alam (eksakta) yang merupakan ayat kauniyah Allah. Akar kata ilmuwan dari dua suku kata Ilmu (serapan dari bahasa Arab) yang sudah mengindonesia, lalu ditambah dengan akhiran –wan yang menunjukkan penegasan sifat awalannya. Sebagai contoh pembanding, yaitu kata dermawan yang artinya orang yang suka menderma, membantu dengan harta atau bersifat sosial. Lantas, siapakah yang mempopulerkannya dan kapan munculnya istilah ilmuwan, wallahu’alam- secara jelas belum kami temui penjelasannya. Namun yang jelas kosa kata ini sudah menjadi kata baku dalam bahasa Indonesia.

2. Definisi Ulama

Secara bahasa, ulama berasal dari kata kerja dasar ‘alima (telah mengetahui); berubah menjadi kata benda pelaku ‘alimun (orang yang mengetahui - mufrad/singular) dan ulama (jamak taksir/irregular plural). Berdasarkan istilah, pengertian ulama dapat dirujuk pada al-Quran dan hadis. Yang sangat masyhur dalam hal ini adalah : انما يخشى الله من عباده العلماء (sesungguhnya yang paling takut kepada Allah diantara hambaNya adalah ulama- Qs.Fathir 28).

Nash yang jelas tentang lafadz al Ulama dalam al Quran di atas adalah berbentuk ism makrifat (khusus-dapat dikenali secara jelas) bukan berbentuk umum (ism nakirah), yaitu ulama. Artinya al Ulama adalah hamba Allah yang takut melanggar perintah Allah dan takut melalaikan perintahNya dikarenakan dengan ilmunya ia sangat mengenal Keagungan Allah. Ia bertahuid (mengesakan) Allah dalam rububiyah, uluhiyah dan asma wa sifat. Mereka sangat berhati-hati dalam ucapan dan tindakan karena memiliki sifat wara, khowasy dan ’arif. Dalam sebuah hadits riwayat Muslim bersumber dari Anas yang membayankan atau menjelaskan terhadap al Qur-an Surah Fathir ayat 28 di atas dinyatakan bahwa :

العلماء اُمناء الله على خلقهِ
("al ‘Ulama adalah pemegang amanah Allah atas makhluqnya”).

Jelas bahwa kata al Ulama bukan sekedar istilah dan kedudukan sosial buatan manusia. Bukan pula orang yang didudukan di lembaga bentukan pemerintahan sekular dengan subsidi dana. Namun kosa kata al Ulama berasal dari Kalamullah dan memiliki arti dan kedudukan sangat terhormat disisi Robb. Hanya Allah yang mengetahui hakikat sebenarnya siapa dari hambaNya yang termasuk kategori al Ulama. Maka tidak berhak seseorang memproklamirkan dirinya sebagai al Ulama.

Secara tersirat kata rusul (ism nakirah) dapat berarti Rosulullah dan bisa pula al Ulama. Sedangkan arrusul (ism makrifat) artinya khusus ditujukan kepada Rosulullah. Berarti al Ulama memiliki tanggung jawab besar berupa amanah risalah yang telah dibawa para rasul untuk dijaga kemurniaannya, didakwahkan dan diamalkan. Kemudian ada juga satu lagi hadits dari sumber Anas, riwayat Muslim yang menyatakan :

العلماءُ امناء الرّسل مالن يٌخلط السلطانَ ودخل الدنياَ اذا خلط السلطان ودخل الدنيا فقد خان الرسل فاهذروهُ

(Al ‘Ulama pemegang amanah para rosul, selama ia tidak menggauli penguasa atau ambisi kekuasaan, dan tidak cinta berat terhadap dunia atau materialis, jika ia menjilat penguasa atau ambisi kekuasaan, dan cinta berat terhadap dunia atau materialis maka sungguh ia telah menghianati para rosul, maka berhati-hatilah kepadanya”).

Hadits ini menjelaskan al Qur-an Surah Assyura ayat 13 :

شرع لكم من الدين ما وصى به نوحآ والذي اوحينا اِليك وما وصّينا به ابراهيم وموسى وعيسى انْ اقيموا الدّين ولا تتفرّقوا فيه كبر على المشركين ما تدعوهم اليهِ الله يجتبى اليه من يشاء ويهدى من ينيب ـ


“Disyariatkan atas kamu ad Din, (yaitu) apa yang Kami wasiatkan dengannya kepada Nuh, dan apa-apa yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), dan apa-apa yang Kami wasiatkan dengannya kepada Ibrahim dan Musa dan Isa, bahwa tegakkanlah ad Din dan janganlah berpecah-belah didalamnya. Berat rasanya bagi orang-orang musyrik seruan kamu atas mereka, Allah menetapkan dengan seruan itu siapa yang dikehendakiNya, dan menunjuki dengannya orang-orang yang kembali (bertaubat)”.

Sedangkan hadits yang berbunyi :

العلماءُ ورثُ الانبياءَ

(al 'ulama adalah pewaris para nabi).

Kedudukan matan atau isi hadits ini lemah (dhoif) sehingga tidak boleh dijadikan hujjah, karena masalah kenabian tidaklah diwariskan. Menurut Rosulullah, ulama itu ada yang asshoghir dan akaabir. Tercermin dalam hadits beliau : “ma yadzalun nafsu bi khoiri ma ahadul ilma ‘inda akaabir (senantiasalah ummat ini dalam kebaikan sepajang mereka mengambil ilmu dari akaabir).

Untuk memahami makna Ulama akaabir dan ulama asshoghir dengan memahami suatu kaidah ushul. Sesuatu hal itu lebih dikenal jika diketahui lawannya. Contoh kita tidak tahu persis arti kata ‘adil jika tidak tahu arti dholim. Juga arti makruf dari lawannya munkar. Secara etimologis akaabir artinya orang besar (penggede) dan asshoghir artinya (orang kecil). Namun secara ilmu tafsir bermakna lain. Diambil dari sebuah hadits, nabi SAW:

“Min assyirothi sa-ah ayyu tsamatsalil ilmu ‘inda asshoghir” (antara lain sebagai prolog /muqadimah datangnya hari qiyamat diambang pintu, yaitu orang mengambil ilmu dari ashoghir). Mufasir berpendapat ashoqir hum ahlul bid’ah (asshoqir adalah ahli bid’ah). Mereka ulama tapi bergelimang dengan bid’ah (mengada-ada dalam perkara Din).

Ciri lain seorang al ulama adalah memiliki kepekaan terhadap penderitaan ummat lalu mengupayakan jalan keluarnya (Qs.9:128). Ia umumnya dibangkitkan Allah di tengah-tengah qoum yang ummi (buta huruf, masyarakat biasa/kecil : Qs.62:2).

Kesimpulan

Al Ulama adalah kedudukan mulia dari Allah kepada hamba pilihan yang memahami ayat-ayat Allah berupa Ilmu kauniyah yang dibentangkan Allah di alam semesta dan Ilmu Syariah yang tertulis dalam kitabNya. Maka untuk mendapatkan definisi yang benar harus dikembalikan yang membuat istilah al Ulama (dalam hal ini Allah). Sedangkan Ilmuwan istilah yang muncul di masa mutaakhir, maka harus dikembalikan kepada pembuatnya (manusia). Dengan mencoba memahami sumber asal yang benar, insyaAllah akan menghasilkan keluaran yang benar pula.

Untuk lebih jelasnya coba perhatikan kembali dalilnya sebagai berikut:
1. Dalam Qs. 35:27-28 dan al Hadits yang menjelaskannya, diperoleh ciri dari al Ulama, yaitu yang memahami Ilmu Alam Semesta. Selain itu rasa takutnya kepada Allah sebagai faktor utama keulamaan. Ia dapat mencapai derajat demikian dikarenakan pengenalannya kepada Allah melalui ilmu sehingga muncul sifat dan perilaku taqwa.
2. Dalam Qs. 42:13 dan al Hadits yang menjelaskannya, diperoleh makna bahwa Ulama adalah yang memahami Ilmu Syariat Dinullah.
3. Dari al hadits menyatakan Ulama terbagi dua, yaitu akaabir (ahlul sunnah) dan asshoqir (ahlul bid’ah).
4. Dalam Qs.62: 2, Ulama dibangkitkan Allah ditengah-tengah qoum yang ummi (buta alqur-an; masyarakat biasa/kecil), bukan orang yang sengaja hijrah ke kota besar untuk sekadar menyibukkan berceramah memenuhi panggilan tanpa bisa memprogram ummat.
5. Dalam Qs.9: 128, al Ulama memiliki kepekaan, kepedulian terhadap penderitaan ummat serta mampu memberikan solusi yang tepat atas dasar sunnah.
6. Dalam Qs. 24 : 37, al ulama adalah lelaki yang mengutakan zikrullah (mendakwahkan Islam) diatas urusan bisnis dan pekerjaan pribadi demi mendapatkan keridhoanNya.
7. Dalam Qs. 2 : 207-208, al ulama bercirikan pribadi-pribadi tangguh yang telah melakukan transaksi kepada Allah atas dirinya secara lahir-bathin serta hartanya. Kemudian berupaya untuk mengamalkan Dinul Islam secara kaffah dengan mengajak para ulama sedunia membangun kesepakatan dan kerjasama menuju hal itu. Ia bukanlah orang yang menjual Islam untuk kepentingan pribadi berupa materi, pujian, dan kedudukan.

Seorang ‘ilmuwan’ dapat masuk dalam golongan al ulama selama memilki aqidah tauhid yang lurus dan beramal sholeh dengan ilmu yang dibukakan Allah untuknya. Bahkan diantara para Nabi dan Rosulullah selain menyeru ummatnya kepada tauhid, merekapun dibekali Allah dengan ilmu 'alam dan teknologi. Beberapa contohnya dari golongan Nabi dan Rosul antara lain pada Nabi Sholih, as., seorang ahli arsitektur bangunan yang kemudian diangkat Allah sebagai rosulNya untuk qoum Tsamud. Lalu Rosulullah Sulaiman, as., dengan istana megahnya dengan taman kaca, serta Nabi Dzulkarnain dengan tembok raksasanya. Kemudian dari kalangan sahabat Rosulullah Muhammad, SAW., kita mengenal Umar bin Khottob seorang ahli ilmu falaq yang mempelopori pembuatan almanak Qomariyah (Hijriyah). Ada pula dari kalangan ulama tempo dulu seperti Ibnu Sina, seorang ‘alim yang juga ahli dalam kedokteran dan sebagainya.

Adapun manusia yang hanya faham dan ahli mengenai ilmu eksakta (alam) tapi jahil mengenai al Quran, maka bukanlah termasuk al ulama. Bisa jadi ia hanyalah ilmuwan, cendikia atau intelektual dari golongan orang-orang kafir atau penganut sekularisme (munafiq), dan dari golongan moderat (muqtasidah) yang selalu mengambil jalan yang aman. Para penganut faham moderat ini, umumnya orang yang memiliki kedudukan di tengah masyarakat umum (kafir dan mukmin) sehingga takut menanggung resiko ujian dan hilang kedudukan apabila menyatakan dirinya muslim yang kaffah. Sebaliknya seorang ulama bisa jadi ia memahami ilmu ‘alam, eksakta (ilmuwan) sekaligus faham ilmu syariat dinullah, atau salah satunya saja, namun beraqidah lurus dan beramal sholih.

Maka, titik temu antara Ilmuwan dengan al Ulama berpangkal pada masalah aqidah yang benar sebagai syarat pokok keulamaan. Ulama dan Ilmuwan bisa jadi satu kesatuan, dan ulama jelas bukan orang bodoh yang tidak faham urusan duniawiyah. Ilmu yang mereka miliki hanyalah sebagai jalan untuk mengenal Allah dan mendapat ridhoNya, bukan ilmu pengetahuan sebagai tujuan akhir hidupnya. Kemudian dengan ilmunya ia mengajak manusia bertauhid kepada Allah subhanahuwata'ala bukan dengan ilmunya menyesatkan dirinya dan ummat, naudzubillah min dzalik. Wallahu’alam. (bid.data&publikasi)

Kamis, 04 Juni 2009

Titik Temu Antara Ilmuwan dan al Ulama

Sering kita jumpai pertanyaan dari beberapa orang yang ingin mengetahui apa perbedaan dan persamaan makna dari istilah Ilmuwan dengan Ulama. Apakah Ilmuwan hanya sebutan khusus untuk para ahli ilmu alam (eksakta) sedangkan Ulama sebutan untuk para ahli Ilmu Agama (baca:Dinul Islam)? Apakah telah terjadi berbagai pergeseran atau penyempitan makna, sehingga terjadi dikotomi keduanya? Adapula yang menganggap bahwa al ulama hanyalah orang-orang yang hanya mengurusi rutinitas ibadah pokok (makhdo) dalam rukun Islam dengan menafikan masalah lainya. Sehingga mereka menganggap para ulama tidak punya ilmu dan kemampuan dalam mengentaskan masalah pembangunan peradaban dan perkembangan iptek.Bukankah dimensi ibadah itu tidak hanya terbatas masalah rukun Islam yang lima perkara saja.

Untuk mencari kejelasannya, berikut ini kami ulas permasalahannya. Mudah-mudahan dapat membantu kita menyibak makna yang sebenarnya. Kita mencoba dengan menggali akar katanya, lalu menelusuri darimana munculnya.

1. Definsi Ilmuwan

Definisi Ilmuwan ialah orang yang bekerja dan mendalami dengan tekun dan sungguh-sungguh dalam bidang ilmu pengetahuan. Para ilmuwan bisa bekerja dalam bidang ilmu pengetahuan yang berbeda. Di sini diberikan beberapa contoh: Mereka yang belajar fisika ialah fisikawan. Yang belajar kimia ialah kimiawan. Yang belajar biologi ialah biolog. (sumber: id.wiktionary.org).

Dari definsi di atas jelas bahwa arahnya hanya kepada para ahli ilmu alam (eksakta) yang merupakan ayat kauniyah Allah. Akar kata ilmuwan dari dua suku kata Ilmu (serapan dari bahasa Arab) yang sudah mengindonesia, lalu ditambah dengan akhiran –wan yang menunjukkan penegasan sifat awalannya. Sebagai contoh pembanding, yaitu kata dermawan yang artinya orang yang suka berderma, membantu dengan harta atau bersifat sosial. Lantas, siapakah yang mempopulerkannya dan kapan munculnya istilah ilmuwan, wallahu’alam- secara jelas belum kami temui penjelasannya. Namun yang jelas kosa kata ini sudah menjadi kata baku dalam bahasa Indonesia.

2. Definisi Ulama

Secara bahasa, ulama berasal dari kata kerja dasar ‘alima (telah mengetahui); berubah menjadi kata benda pelaku ‘alimun (orang yang mengetahui - mufrad/singular) dan ulama (jamak taksir/irregular plural). Berdasarkan istilah, pengertian ulama dapat dirujuk pada al-Quran dan hadis. Yang sangat masyhur dalam hal ini adalah : انما يخشى الله من عباده العلماء (sesungguhnya yang paling takut kepada Allah diantara hambaNya adalah ulama- Qs.Fathir 28).

Nash yang jelas tentang lafadz al Ulama dalam al Quran di atas adalah berbentuk ism makrifat (khusus-dapat dikenali secara jelas) bukan berbentuk umum (ism nakirah), yaitu ulama. Artinya al Ulama adalah hamba Allah yang takut melanggar perintah Allah dan takut melalaikan perintahNya dikarenakan dengan ilmunya ia sangat mengenal keagungan Allah. Ia bertahuid (mengesakan) Allah dalam rububiyah, uluhiyah dan asma wa sifat. Mereka sangat berhati-hati dalam ucapan dan tindakan karena memiliki sifat wara, khowasy dan ’arif. Dalam sebuah hadits riwayat Muslim bersumber dari Anas yang membayankan atau menjelaskan terhadap al Qur-an Surah Fathir ayat 28 di atas dinyatakan bahwa :

العلماء اُمناء الله على خلقهِ
("al ‘Ulama adalah pemegang amanah Allah atas makhluqnya”).

Jelas bahwa kata al Ulama bukan sekedar istilah dan kedudukan sosial buatan manusia. Bukan pula orang yang didudukan di lembaga bentukan pemerintahan sekular dengan subsidi dana. Namun kosa kata al Ulama berasal dari Kalamullah dan memiliki arti dan kedudukan sangat terhormat disisi Rabb. Hanya Allah yang mengetahui hakikat sebenarnya siapa dari hambaNya yang termasuk kategori al Ulama. Maka tidak berhak seseorang memproklamirkan dirinya sebagai al Ulama.

Secara tersirat kata rusul (ism nakirah) dapat berarti Rosulullah dan bisa pula al Ulama. Sedangkan arrusul (ism makrifat) artinya khusus ditujukan kepada Rosulullah. Berarti al Ulama memiliki tanggung jawab besar berupa amanah risalah yang telah dibawa para rasul untuk dijaga kemurniaannya, didakwahkan dan diamalkan. Kemudian ada juga satu lagi hadits dari sumber Anas, riwayat Muslim yang menyatakan :

العلماءُ امناء الرّسل مالن يٌخلط السلطانَ ودخل الدنياَ اذا خلط السلطان ودخل الدنيا فقد خان الرسل فاهذروهُ

(Al ‘Ulama pemegang amanah para rosul, selama ia tidak menggauli penguasa / ambisi kekuasaan, dan tidak cinta berat terhadap dunia / materialis, jika ia menjilat penguasa / ambisi kekuasaan, dan cinta berat terhadap dunia / materialis maka sungguh ia telah menghianati para rosul, maka berhati-hatilah kepadanya”).

Hadits ini menjelaskan al Qur-an Surah Assyura ayat 13 :

شرع لكم من الدين ما وصى به نوحآ والذي اوحينا اِليك وما وصّينا به ابراهيم وموسى وعيسى انْ اقيموا الدّين ولا تتفرّقوا فيه كبر على المشركين ما تدعوهم اليهِ الله يجتبى اليه من يشاء ويهدى من ينيب ـ


“Disyariatkan atas kamu ad Din, (yaitu) apa yang Kami wasiatkan dengannya kepada Nuh, dan apa-apa yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), dan apa-apa yang Kami wasiatkan dengannya kepada Ibrahim dan Musa dan Isa, bahwa tegakkanlah ad Din dan janganlah berpecah-belah didalamnya. Berat rasanya bagi orang-orang musyrik seruan kamu atas mereka, Allah menetapkan dengan seruan itu siapa yang dikehendakiNya, dan menunjuki dengannya orang-orang yang kembali (bertaubat)”.

Sedangkan hadits yang berbunyi :

العلماءُ ورثُ الانبياءَ

(al 'ulama adalah pewaris para nabi).

Kedudukan matan atau isi hadits ini lemah (dhoif) sehingga tidak boleh dijadikan hujjah, karena masalah kenabian tidaklah diwariskan. Menurut Rosulullah, ulama itu ada yang asshoghir dan akaabir. Tercermin dalam hadits beliau : “ma yadzalun nafsu bi khoiri ma ahadul ilma ‘inda akaabir (senantiasalah ummat ini dalam kebaikan sepajang mereka mengambil ilmu dari akaabir).

Untuk memahami makna Ulama akaabir dan ulama ashoqir dengan memahami suatu kaidah ushul. Sesuatu hal itu lebih dikenal jika diketahui lawannya. Contoh kita tidak tahu persis arti kata ‘adil jika tidak tahu arti dholim. Juga arti makruf dari lawannya munkar. Secara etimologis akaabir artinya orang besar (penggede) dan ashoqhir artinya (orang kecil). Namun secara ilmu tafsir bermakna lain. Diambil dari sebuah hadits, nabi SAW:

“Min assyirothi sa-ah ayyu tsamatsalil ilmu ‘inda asshoghir” (antara lain sebagai prolog /muqadimah datangnya hari qiyamat diambang pintu, yaitu orang mengambil ilmu dari ashoghir). Mufasir berpendapat ashoqir hum ahlul bid’ah (asshoqir adalah ahli bid’ah). Mereka ulama tapi bergelimang dengan bid’ah (mengada-ada dalam perkara Din).

Ciri lain seorang al ulama adalah memiliki kepekaan terhadap penderitaan ummat lalu mengupayakan jalan keluarnya (Qs.9:128). Ia umumnya dibangkitkan Allah di tengah-tengah qoum yang ummi (buta huruf, masyarakat biasa/kecil : Qs.62:2).

Kesimpulan

Al Ulama adalah kedudukan mulia dari Allah kepada hamba pilihan yang memahami ayat-ayat Allah berupa Ilmu kauniyah yang dibentangkan Allah di alam semesta dan Ilmu Syariah yang tertulis dalam kitabNya. Maka untuk mendapatkan definisi yang benar harus dikembalikan yang membuat istilah al Ulama (dalam hal ini Allah). Sedangkan Ilmuwan istilah yang muncul di masa mutaakhir, maka harus dikembalikan kepada pembuatnya (manusia). Dengan mencoba memahami sumber asal yang benar, insyaAllah akan menghasilkan keluaran yang benar pula.

Untuk lebih jelasnya coba perhatikan kembali dalilnya sebagai berikut:
1. Dalam Qs. 35:27-28 dan al Hadits yang menjelaskannya, diperoleh ciri dari al Ulama, yaitu yang memahami Ilmu Alam Semesta. Selain itu rasa takutnya kepada Allah sebagai faktor utama keulamaan. Ia dapat mencapai derajat demikian dikarenakan pengenalannya kepada Allah melalui ilmu sehingga muncul sifat dan perilaku taqwa.
2. Dalam Qs. 42:13 dan al Hadits yang menjelaskannya, diperoleh makna bahwa Ulama adalah yang memahami Ilmu Syariat Dinullah.
3. Dari al hadits menyatakan Ulama terbagi dua, yaitu akaabir (ahlul sunnah) dan asshoqir (ahlul bid’ah).
4. Dalam Qs.62: 2, Ulama dibangkitkan Allah ditengah-tengah qoum yang ummi (buta alqur-an; masyarakat biasa/kecil), bukan orang yang sengaja hijrah ke kota besar untuk sekadar menyibukkan berceramah memenuhi panggilan tanpa bisa memprogram ummat.
5. Dalam Qs.9: 128, al Ulama memiliki kepekaan, kepedulian terhadap penderitaan ummat serta mampu memberikan solusi yang tepat atas dasar sunnah.
6. Dalam Qs. 24 : 37, al ulama adalah lelaki yang mengutakan zikrullah (mendakwahkan Islam) diatas urusan bisnis dan pekerjaan pribadi demi mendapatkan keridhoanNya.
7. Dalam Qs. 2 : 207-208, al ulama bercirikan pribadi-pribadi tangguh yang telah melakukan transaksi kepada Allah atas dirinya secara lahir-bathin serta hartanya. Kemudian berupaya untuk mengamalkan Dinul Islam secara kaffah dengan mengajak para ulama sedunia membangun kesepakatan dan kerjasama menuju hal itu. Ia bukanlah orang yang menjual Islam untuk kepentingan pribadi berupa materi, pujian, dan kedudukan.

Seorang ‘ilmuwan’ dapat masuk dalam golongan al ulama selama memilki aqidah tauhid yang lurus dan beramal sholeh dengan ilmu yang dibukakan Allah untuknya. Bahkan diantara para Nabi dan Rosulullah selain menyeru ummatnya kepada tauhid, merekapun dibekali Allah dengan ilmu 'alam dan teknologi. Beberapa contohnya dari golongan Nabi dan Rosul antara lain pada Nabi Sholih, as., seorang ahli arsitektur bangunan yang kemudian diangkat Allah sebagai rosulNya untuk qoum Tsamud. Lalu Rosulullah Sulaiman, as., dengan istana megahnya dengan taman kaca, serta Nabi Dzulkarnain dengan tembok raksasanya. Kemudian dari kalangan sahabat Rosulullah Muhammad, SAW., kita mengenal Umar bin Khottob seorang ahli ilmu falaq yang mempelopori pembuatan almanak Qomariyah (Hijriyah). Ada pula dari kalangan ulama tempo dulu seperti Ibnu Sina, seorang ‘alim yang juga ahli dalam kedokteran dan sebagainya.

Adapun manusia yang hanya faham dan ahli mengenai ilmu eksakta (alam) tapi jahil mengenai al Quran, maka bukanlah termasuk al ulama. Bisa jadi ia hanyalah ilmuwan, cendikia atau intelektual dari golongan orang-orang kafir atau penganut sekularisme (munafiq), dan dari golongan moderat (muqtasidah) yang selalu mengambil jalan yang aman. Para penganut faham moderat ini, umumnya orang yang memiliki kedudukan di tengah masyarakat umum (kafir dan mukmin) sehingga takut menanggung resiko ujian dan hilang kedudukan apabila menyatakan dirinya muslim yang kaffah. Sebaliknya seorang ulama bisa jadi ia memahami ilmu ‘alam, eksakta (ilmuwan) sekaligus faham ilmu syariat dinullah, atau salah satunya saja, namun beraqidah lurus dan beramal sholih.

Maka, titik temu antara Ilmuwan dengan al Ulama berpangkal pada masalah aqidah yang benar sebagai syarat pokok keulamaan. Ulama dan Ilmuwan bisa jadi satu kesatuan, dan ulama jelas bukan orang bodoh yang tidak faham urusan duniawiyah. Ilmu yang mereka miliki hanyalah sebagai jalan untuk mengenal Allah dan mendapat ridhoNya, bukan ilmu pengetahuan sebagai tujuan akhir hidupnya. Kemudian dengan ilmunya ia mengajak manusia bertauhid kepada Allah subhanahuwata'ala bukan dengan ilmunya menyesatkan dirinya dan ummat, naudzubillah min dzalik. Wallahu’alam. (bid.data&publikasi)

Senin, 25 Mei 2009

Lawatan ke Bali dan NTB

Mulai hari rabu 20 Mei 2009 lalu, empat orang utusan dari unsur Dewan Perancang dan Panitia Pelaksana Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu (DP3MU) bertolak menuju Denpasar Bali untuk misi sosialisasi rencana program Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu. Setibanya di Bali siang harinya mereka diterima oleh pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali di kantornya. Esoknya 21 mei, rombongan bersilaturahim ke Himpunan Keluarga Melayu di Denpasar.

Kemudian pada hari Jum-at 22 Mei masih di Ibukota Bali, rombongan mengadakan 2 acara Tabligh. Pertama di Masjid Nurul Huda yang diisi oleh Ustadz Arbani selaku Ketua Panitia Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu 2010. Tempat lainnya di Masjid Al Furqon dimana penyampai materinya Ustad Daniftal selaku Ketua Bidang Acara dalam kepanitian Mudzakarah Ulama.

Adapun rombongan DP3MU yang mengadakan lawatan ini selain yang tersebut di atas adalah Ustadz Sondi Senanduro yang bersama-sama bertolak dari Bandara Sultan Mahmud Badarudin II, Palembang. Sedangkan seorang lagi adalah KH. Fathul Adzim Chatib (Perwakilan DPMU provinsi Banten) yang bertemu dengan ketiga rombongan lainnya di Bandara Cengkareng Jakarta.

Selanjutnya keempat utusan ini pada Ahad pagi 24 Mei ba’da sholat subuh menghadiri acara Tabligh di Masjid Baitul Makmur Denpasar Bali yang dihadiri 700 peserta diantaranya dari beberapa ormas dan tokoh Islam serta para Ulama. Tabligh ini merupakan kegiatan terakhir di Provinsi Bali pada kesempatan kali ini. Hari itu juga rombongan langsung menyeberang menuju Pulau Lombok.

Senin pagi, 25 Mei rombongan DP3MU bertatap muka dengan pemerintah setempat. Mereka diterima oleh Sekretaris Daerah dan Wakil Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat Bapak Abdul Malik di Kantor Dinasnya. Selepas itu mereka melanjutkan perjalanan untuk bersilaturahim ke beberapa ulama setempat. Hingga berita ini dirilis rombongan beserta seorang ikhwan di sana Ustadz H. Baharudin sedang melakukan perjalanan menuju Ponpes Nurul Hakim Lombok Barat menemui Ketua Pondok Pesantren se Nusa Tenggara Barat. (Bidang Data dan Publikasi)

Seminar Peradaban Islam



Pada selasa 19 Mei lalu Tim dari Panitia Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu (PPMU) 2010 yang teridiri dari 5 orang anggota bertolak dari Palembang menuju Jakarta. Mereka diutus untuk menghadiri acara Seminar Peradaban Islam yang diadakan oleh Hidayatullah di Hotel Sahid Jakarta tanggal 20 Mei 2009. Dalam agenda seminar sehari ini terbaca bahwa ada dua tema seminar yaitu “Benturan Peradaban Islam Versus Barat” dan “Solusi bersama membangun Peradaban Islam”. Pembicara yang disiapkan adalah tokoh-tokoh yang populis di masyarakat, yaitu Dr. Abdul Manan (Hidayatullah); Anwar Ibrahim (Malaysia); Prof.Dr.Din Syamsudin; dan KH. Hasyim Muzadi untuk tema pertama. Sedangkan pembicara pada tema kedua adalah Ir.Abdul Aziz Kahar Muzakar, Prof.Dr. BJ. Habibie; Prof.Dr. Amien Rais, dan Dr. Syafii Antonio.


Dalam pemaparannya Anwar Ibrahim dengan menyinggung teori benturan peradapannya Huttington, antara lain menyatakan bahwa dialog antara peradaban adalah suatu yang perlu diadakan dengan tidak mengikuti tempo dan taktik orang asing. Juga bukan memberi respon terhadap teorinya Huttington. Ummat Islam harus percaya diri mengadakan dialog dengan siapa saja karena Dinul Islam dibangun atas dasar rahmatan lil ‘alamin. Menyinggung masalah krisis ekonomi di negeri muslim, itu adalah karena kita sendiri penyebabnya dan ketika kita butuh bantuan, maka orang asing terkadang mengambil manfaatnya. Antara lain melalui lembaga IMF dengan menetapkan syarat-syarat yang terkadang merugikan kita. Anwar Ibrahim adalah pemakalah yang paling banyak alokasi waktunya untuk berbicara dan menjawab pertanyaan peserta.

Selanjutnya beliau menyatakan bahwa gagasan dialog peradapan yang diusung pihak barat tidak ada makna sama sekali jika di waktu yang sama ummat Islam dibantai oleh mereka. Seperti penyerangan yang dilakukan oleh pasukan Amerika ke Afganistan atas perintah Presiden Obama yang bahkan didukung oleh beberapa pimpinan negara Islam. Dialog peradapan baru ada makna jika kedua fihak memiliki posisi tawar dan kekuatan yang relatif seimbang.

Sebagai kritik, patut disayangkan agenda seminar yang direncanakan belum terlaksana secara baik. Walaupun ada harapan dari peserta untuk dapat mendengar pandangan-pandangan dari pemakalah seminar dengan tema-tema yang besar. Pada saat acara dimulai beberapa pembicara batal hadir, diantaranya BJ. Habibie, Amien Rais, dan Syafii Antonio. Alokasi waktu yang disediakan pun belum dimanfaatkan secara optimal dengan keterlambatan hadirnya pembicara dan sesi dialog sangat terbatas. Hanya 3 penanggap untuk tiap tema dengan waktu masing-masing hanya satu menit, dan utusan PPMU (Ustadz Noviandi) sempat memberi tanggapan pada seminar ini. Sisi ilmiah seminar ini sedikit terganggu dengan pertanyaan dan tanggapan yang diarahkan ke ranah politik untuk kepentingan capres Indonesia yang akan datang.

Utusan PPMU diutus pada seminar ini adalah Ustadz Rizal Yandi, Ustadz Noviandi, Agustian, Ustadz al Hizroh (Babel) dan Erwin sebagai driver. Dalam sesi istirahat utusan PPMU sempat berdialog dan menyampaikan pesan rencana Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu kepada Bapak Anwar Ibrahim dan tokoh-tokoh Hidayatullah. (Bidang Data dan Publikasi)

Sabtu, 09 Mei 2009

Lawatan DP3MU di Banten, Jakarta dan Garut




Anggota DP3MU yang dipimpin oleh Ustadz Muhammad Bardan Kindarto pada hari Selasa 5 Mei 2009 lalu bertolak menuju ke beberapa kota di Pulau Jawa. Kunjungan ini untuk memenuhi undangan silaturahim dan sosialisasi dari perwakilan DPMU di sana. Rabu subuh esoknya tim sosialisasi telah tiba di Kota Banten Lama, dan tak lama kemudian disambut oleh Ketua Penadiran Kesultanan Banten, KH. Fathul Adzim Chatib, di kediamannya Komplek Masjid Agung Banten Lama.

Ba’da sholat dhuhur di Masjid Agung Banten Lama diadakan acara pemaparan Program Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu oleh Ketua DPMU, dan dilanjutkan dengan dialog. Diantara peserta dialog adalah KH. Ahmad Zen (Pimpinan Ponpes Manur Huda Sukabumi), Muhammad Yasin (DPP HTI), M. Al Khathath (Sekjen FUI dan Pimpinan Tabloid Suara Islam), dan Ustadz Ali Badri Azmat Khan ( Sekjen Robithol al Azmatkhan Al Husaini Indonesia).

Secara umum para penanggap memiliki cita-cita yang sama yaitu menjemput janji kemenangan Islam dari Allah dengan tegaknya Syariat Dinullah. Namun yang perlu terus dimusyawarahkan adalah membangun kesepakatan kerjasama dengan landasan program yang benar dan sesuai dengan tuntunan dan tahapan Alqur-an dan Assunnah. Jangan sampai cita-cita yang benar namun dilakukan secara prematur (tergesa-gesa) sehingga menyalahi sunnah yang pasti menimbulkan kerugian.

Petang hari selepas acara di Masjid Banten lama ini, tim sosialisasi melanjutkan perjalanan ke Jakarta Timur, tepatnya Yayasan Muslimin (Yasmin) pimpinan Ustad Orde Jauhari yang juga unsur ketua DPMU. Kamis pagi esok harinya diadakan acara dialog di Yasmin dengan beberapa dai yang diundang. Kemudian menjelang sore rombongan mulai bergerak menuju Kabupaten Garut, Jawa Barat untuk bertemu beberapa tokoh Ulama seperti Ustadz Syafrudin, Ajengan Thoha dan Ustadz Ahmad Hariadi (anggota DPMU). Acara silaturahim diadakan Jumat malam ba’da sholat Magrib di Kediaman Ustadz Syafrudin dengan puluhan jemaah pengajiaannya dari beberapa daerah di Jawa Barat dengan mendengarkan pemaparan dari Ustadz Muhammad Bardan Kindarto. (Bid.Data&Publikasi)

Senin, 27 April 2009

Musyawarah Bulanan XI DP3MU

Pada hari sabtu, 29 Rabiul Akhir 1430 lalu telah dilaksanakan Musyawarah Harian DP3MU ke XI di Auditorium Yayasan Amanat Kesejahteraan Umat Islam (AKUIS) Pusat Palembang. Untuk efisiensi dan efektivitas waktu, maka undangan yang hadir diprioritaskan bagi angggota DP3MU di wilayah Sumatera Selatan. Namun tidak menutup bagi anggota di luar wilayah tersebut. Maka dalam musyawarah ini turut hadir wakil-wakil DPMU dari provinsi DKI Jakarta dan Banten, yaitu Ustadz Dr. Orde Jauhari dan KH. Fathul Adzim Chatib.

Pada intinya musyawarah bulanan adalah untuk mengatur masalah teknis persiapan Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu yang insyaAllah gigelar tahun 2010 nanti. Maka dalam kesempatan ini alhamdlillah telah dicapai beberapa keputusan diantaranya menetapkan anggota Tim Sosialisasi dari unsur Panitia dan Dewan Perancang yang akan diberangkatkan ke Wilayah Indonesia Timur dan negeri-negeri Jiran. Kemudian menyusun anggaran biaya untuk kepentingan agenda pokok tersebut serta mengusulkan nama-nama ulama yang akan diundang nantinya. (Bid.Data&Publikasi PPMU)

Rabu, 25 Maret 2009

Tanya Jawab Tentang Solusi al Quran Terhadap Permasalahan Ummat Islam

Apakah ulama yang tergabung dalam Dewan Perancang Mudzakarah Ulama mengabaikan berbagai issu dan keterpurukan ummat Islam di dalam negeri kita?

Sama sekali tidak, justru harapan seluruh anggota DP3MU dengan agenda yang kita usung ini akan memberikan solusi tuntas terhadap permasalahan ummat manusia, khususnya saudara-saudara kita. Seluruh program dan tahapan langkah kita diupayakan mengacu kepada petunjuk al Quran dan Sunah Rosul. Kita yakin ketika satu saja saudara muslim kita terluka maka sakitnya terasa kepada seluruh tubuh kita, itu prinsip. Dan kita yakin itu suatu ujian terhadap kualitas iman dan amal kita yang mesti terjadi dan memang harus dihadapi.

Bagaimana terhadap kasus yang lagi santer seperti pemurtadan, munculnya aliran sesat, maraknya perdukunan, sekularisasi dan sebagainya, apa solusinya?

Pertama, kita harus yakin bahwa hanya dengan niyat dan langkah yang benar menurut tuntunan al Quran dan Sunah Rosul semua permasalahan itu akan teratasi dengan izin Allah. Mustahil dalam ajaran Islam tidak mampu memberi solusi yang tepat. Tinggal kita mau atau tidak. Pertama secara internal meningkatkan imunitas aqidah dengan dakwah menyebarkan ajaran sunah. Kedua mengatasi akar pokok penyebab kerusakan ummat, dengan mengambil contoh siyasah yang dituntunkan rosul kita.

Konkretnya bagaimana?

Mari kita ingat kembali dua contoh yang dituntunkan rosul. Pertama strategi hijrah dan kedua peristiwa perang tabuk. Sebelum hijrah ke madinah banyak umat Islam yang tertindas di bumi Makkah, satu contoh seperti Bilal. Ia dibebaskan dan ditolong oleh Abu Bakar as Siddiq atas inisiatif sendiri. Periode makkah merupakan masa penanaman aqidah dan masa ummat Islam diuji kesabarannya dengan berbagai tekanan orang-orang musyrik. Setelah terjadi hijrah lalu Ummat Muslim sudah menerapkan sistem kepemimpinan yang dipandu rosulullah maka setiap ancaman yang menerpa ummat muslim selalu dihadapi secara bersama dan terpimpin oleh rosulullah.

Artinya saat ini kita baru mampu menghadapi permasalahan secara parsial menurut kapasitas dan kemampuan tiap (ulama) di tempat masing-masing. Karena kita belum diberi Allah pemimpin sebenarnya dan belum ada kesepakatan antara ulama sedunia. Saat ini kita perlu berbagi tugas, tapi belum dapat terkoordinasi secara baik dan benar. Kita sekarang baru bisa membantu seadanya, mendakwahkan Islam dan memotivasi kesabaran mereka yang tertindas serta mendoakan. Langkah jihad secara shaffan baru dapat dilakukan jika waktunya telah tepat sesuai rencana Allah dengan dimunculkannya Khilafah ‘ala Minhaj Nubuwah seperti tersebut dalam hadits rosulullah. InsyaAllah kita sedang menuju ke sana.

Kemudian dalam al Quran kita diperintahkan untuk mengatasi aulia (pemimpin) syaithon bukan sekedar pionernya. Apabila dalangnya telah tercabut, tentu para aktornya akan lemah. Pelopor syaithon (sifat jahat) ini kita fahami bersama adalah sumbernya dari golongan Ahli Kitab dengan dua sistem organisasi raksasa mereka yang mendunia sebagai benteng mereka yang diamtsalkan al Quran akan runtuh melalui ‘tangan’ mereka sendiri dan ‘tangan’ orang-orang mukmin (Qs.59:2). Merekalah sebenarnya sumber kerusakan di setiap negeri. Jangan kita melihat bara apinya tapi terpokok mari atasi sumber asal apinya.

Jika dilihat dalam konteks global sekarang ini, dimana seluruh negara di dunia telah tergabung dalam pekatnya sebuah arus yang dibuat ahli kitab. Arus ini jika dibaratkan sebuah aliran sungai yang hulunya dikuasai mereka. Sedangkan negeri kita terintegrasi dengan mereka melalui anak-anak sungainya. Maka wajar anak sungai (negeri) kita ikut terimbas keruh. Maka kurang tepat jika kita disibukkan menjernihkan anak sungai ini, karena kita pasti akan lalai terhadap penyebab pokoknya, disamping hasilnya kurang efektif dan efisien mengenai sasaran. Akibatnya kita akan saling menyalahkan dan berbenturan sesama anak bangsa. Tentu pihak mereka senang melihat kita bermusuhan dan saling menghancurkan.

Kita seharusnya melihat apa sesungguhnya yang terjadi jauh di hulu sungai tersebut. Disana dapat kita lihat “gajah-gajah” yang berkubang membuat keruh sampai ke muara dan anak-anak sungai. Maka tugas kitalah untuk ‘menggiring’ dan ‘mengamankan’ mereka agar seluruh aliran sungai kembali jernih.

Mengapa kita berencana mengundang Ulama sedunia untuk bermudzakarah, bukankah lebih baik menyelesaikan permasalahan di rumah tangga (negeri) kita dahulu baru ke tahap rumpun melayu kemudian tingkat dunia?

Mudah-mudahan inilah antara lain ittibar yang coba kita ittiba’i dari peristiwa perang Tabuk. Kita ketahui bahwa perang tabuk terjadi sebelum Fathul Makkah. Ancaman yang disongsong dalam tabuk lebih besar dan kuat dari ancaman musyirikin di Makkah jika dianalisa secara rasio fikiran. Karena dalam peristiwa Tabuk rosul memerintahkan para sahabatnya untuk menyongsong pasukan Kekaisaran Romawi Timur yang besar jumlahnya, jauh dan luas wilayahnya. Begitulah Allah menyusun rencanaNya untuk menguji ketaatan hambaNya dan untuk membuktikan janji-janjiNya. Ternyata rosul dan sahabat-sahabat setianya memperoleh kemenangan yang mudah.

Sedangkan secara logika kita yang awwam tentu akan memilih resiko yang lebih kecil yaitu memasuki Makkah baru kemudian mengembangkan sayap ke luar negeri. Inilah ittibar yang dapat kita ambil pelajarannya. Bahwa tahapan yang kita bangun harus menyesuaikan dengan apa yang telah dicontohkan rosul kita yang mungkin bertentangan dengan rasio kita yang dangkal. Pelajarannya antara lain, disatu sisi Allah telah berjanji kepada rosulNya bahwa mereka akan memasuki rumah mereka (makkah) dengan aman. Di sisi lain dengan kalahnya pasukan romawi timur memberi psywar kepada orang-orang musyrik di dalam negeri (makkah) yang memusuhi Islam. Tentunya hati mereka bertambah kecut melihat kejayaan rosul dan ummat Islam melawan tentara romawi. Akhirnya tahun berikutnya rosul dapat membebaskan negerinya (makkah) dengan aman tanpa pertumpahan darah.

Dengan mengikuti ittibar peristiwa hijrah dan Perang Tabuk, maka insyaAllah permasalahan rumah tangga (negeri) kita dan setiap negeri muslim akan teratasi secara utuh dan komprehensip sampai ke akar-akarnya jika sumber pembuat masalahnya sudah diatasi Allah melalui tangan hamba-hambaNya. Diawali dengan adanya kesepakatan para ulama sedunia. Namun yang perlu digaris bawahi tujuan kita bukanlah menggapai atau merebut kekuasaan, karena tegaknya aturan Allah dan munculnya Khilafathul Muslimin merupakan hak mutlaq, rahasia dan kekuasan Allah. Janji Allah pasti dibuktikanNya meski mungkin beberapa masa lagi dimana kita sudah tiada, namun wajib kita yakini. Tujuan kita semata-mata mencari ridho Allah dan memohon dicatat sebagai syuhada (Qs.3:53).

Terakhir, mengapa ulama yang dijadikan sorotan dalam mudzakarah ini?


Tentu ada sebabnya, karena memang al Quran dan al Hadits yang shohih memberitakan hal ini. Al Ulama adalah kedudukan yang diberikan Allah kepada hamba-hambaNya tertentu. Mereka sosok yang paling mengenal Allah dan bertaqwa kepada Allah, setelah tiada lagi rosul yang diutusNya. Perbaikan ummat diamanahkan Allah kepada mereka. Merekalah ahlinya dalam mengatur ummat dengan syariat Allah. Jika permasalahan kemanusian diserahkan kepada masyarakat awwam maka sama saja menyerahkan sesuatu masalah kepada bukan ahlinya, maka tunggulah masa kehancurannya seperti yang dipesankan rosul kita. Ummat muslim umumnya mari kita ajak untuk menjadi anshorullah (penolong dinullah) dengan menginfaqkan harta dan potensi diri masing-masing. Wallahu’alam.

Disarikan dari kaderisasi Mubaligh Sunnah Panpel Mudzakarah Ulama

Senin, 23 Maret 2009

Tahapan Menuju Janji Kemenangan Islam



Pada tanggal 17-18 Rabi’ul Ula 1430 H bertepatan 14-15 Maret 2009 M, telah dilaksanakan Musyawarah Pleno ke 4, Dewan Perancang dan Panitia Pelaksana Mudzakarah Ulama (DP3MU). Acara berlangsung sejak pagi hari hingga malam harinya di auditorium Yayasan Amanat Kesejahteraan Umat Islam (AKUIS) Pusat Palembang. Musyawarah ini merupakan agenda rutin tiap semester (6 bulan) sejak tahun 2007 sampai menjelang rencana Mudzakarah Ulama Rumpun Melayu yang insyaAllah pada tahun 2010. Tujuan musyawarah ini antara lain adalah pematangan persiapan menuju perhelatan utama, yaitu mengundang Ulama Serumpun Melayu yang meliputi wilayah Indonesia, Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Filiphina, dan Timor Leste untuk bermudzakarah, membangun kesatuan hati (tansiq) dan kesepakatan kerja. Karena setelah tiada lagi perutusan Rosul, maka pada pundak ulama, Allah melalui rosulNya meletakkan amanah risalah dan amanah seluruh makhluq. Pada lisan dan tangan ulama dapat diumulai langkah perbaikan ummat dan pembelaan terhadap yang benar (haq).

Dalam Musyawarah Pleno ke 4 ini, diikuti bukan saja oleh Ulama yang sudah tergabung dalam DP3MU, tetapi juga dari ulama yang diundang dalam kegiatan sosialisasi. Mereka umumnya para tokoh penggerak ummat dan pembela Islam yang gigih. Diantara peserta yang baru pertama kali hadir adalah Tuan Guru Muhammad Mirza (Jambi), Ustadzah Euis Srimulyati (Bandung), Buya Abdullah Shoefi (Jambi), Syaikh Muhammad Makmun (Pandeglang), Ustadz Sabil Ro’un (Jakarta) dan Syaikh Ahmad Hariadi (Garut), serta masih banyak lagi yang belum sempat kami sebutkan.

Diantara keputusan yang dicapai pada musyawarah pleno kali ini adalah penambahan anggota DP3MU dari peserta yang baru hadir, penambahan perwakilan di beberapa wilayah, serta perencanaan sosialisasi ke wilayah Indonesia Tengah, Timur dan Negara Tetangga dengan beberapa kafilah. Selain itu program-program pokok semakin dikerucutkan. Tanggapan peserta musyawarah umumnya sangat posistif dan optimis serta memberikan evaluasi kinerja DP3MU yang masih belum maksimal. Dukungan peserta sangat disyukuri bersama, dengan ditandai kesedian untuk terlibat secara aktif mempola program ini serta membantu dengan pengorbanan hartanya.

Mudah-mudahan apa yang diputuskan dalam musyawarah kali ini akan membawa dampak positif khususnya bagi ummat Islam. Terutama yang diharapkan adalah ridho dan pertolongan dari Allah. Harapan kita adalah kiranya segenap Ummat Islam dapat menyambut secara positif dan mendukung dengan pengorbanan harta dan jiwanya terhadap program menyambut janji kejayaan Islam dari Allah Subhanuwata’ala (Qs.9:33, 59:2, 33:27 dan HR.Muslim, Ahmad). Kiranya Allah mengabulkan harapan ini dan mencatat kita sebagai saksi atau syuhada (Qs.3:53) akan tegaknya Hukum Allah di seluruh penjuru bumi, insyaAllah. (Bid.Data&Publikasi PPMU)

sumber : www.al-ulama.net

Minggu, 22 Maret 2009

Sumbang Saran dan Kritik #1

Wawancara dengan Syaikh Abdullah Soefhie*)

Bagaimana dengan kondisi ummat Islam sekarang?

Yang sangat mendasar terlanda di umat Islam sekarang ialah pendangkalan aqidah. Umat Islam hampir kehilangan jati diri karena ikut-ikutan umat di luar Islam. Rosul SAW juga telah memberi sinyal sekaligus peringatan bahwa umat Islam akan ikut-ikutan dengan pola di luar Islam, sehingga kalau mereka masuk lubang biawak kamu juga akan ikut serta. Bahkan kalau ada diantara mereka yang berzina dengan ibu mereka sendiri juga terjadi pada kamu, karena pernah terjadi pada ahli kitab terdahulu dan ini akan terjadi pada umat Islam. Ini hanya dalam segi moral belum lagi dari segi aqidah.

Sisi aqidah, kita lihat fenomena yang terjadi di umat seperti kasus dukun cilik ponari, belum lagi kasus Seikh Baba di India. Jadi sekarang mereka terinvasi oleh para pioner-pioner dajjal. Kalau dajjal hakiki itu belum keluar, nanti di akhir zaman. Tapi mengapa dari zaman sahabat 15 abad yang lalu nabi telah mengajarkan sahabatnya saat mengakhiri sholatnya dengan berdoa “aku berlindung padamu dari azab jahanam,azab kubur dari godaan hidup dan mati dan fitnah al masihi dajjal. Sedangkan mereka belum bertemu secara fisik dengan dajjal hakiki, tapi pioner-pionernya telah mendahului seperti Musailamah al kazab yang mengaku nabi, abu alshod alinzi di Yaman, Tuleha alasyadi dan lainnya.

Menurut Syaikh sendiri apa yang menjadi faktor utama kondisi umat itu menjadi lemah?

Ya itu tadi karena salah aqidah, bisa menegakkan Daulah Islam itu karena kokohnya aqidah, kalau ini rapuh..??!!

Mengapa itu bisa terjadi?


Nah kalau sampai disitu anda bertanya, kalau saya bilang itu kesalahannya ditangan ulama nanti salah nanti, orang bilang kita mau menang sendiri. Inilah ulama harus menanam dasar-dasar aqidah, jadi banyak yang disampaikan itu hanya kulit-kulit Islam bukan dasarnya.

Menurut Syaikh sendiri apa pandangan dan harapannya?

Saya sangat optimis sekali, mudah-mudahan ini impian yang akan menjadi kenyataan tinggal lagi cepat atau lambat Insya Allah, asal betul-betul kita ini tidak asal-asalan tapi memang mau bekerja keras dalam arti jihad.

Apa yang harusnya segera kita lakukan untuk mendukung program MU?


Ya kita membangun ulama yang masih tidur, kita punya aset cukup, tapi maaf semangat jihadnya sudah lemah dan visi misinya sudah kabur. Kadang-kadang ini pengaruh aqidah juga.

Saran untuk muzdakaroh ini ?

Ya, memberi sumbangan berupa pikiran- pikiran untuk menuju terwujudnya cita-cita luhur mudzakarah ulama ini.

Bagaimana saran bagi Panitia Mudzakarah Ulama?


Pertama, Mudzakarah Ulama ini adalah pekerjaan kita yangbesar. Jadi komite pencari Ulama perlu lebih gesit lagi mendata keberadaan ulama, tapi ulama yang konsisten dengan al Quran dan Sunnah. Bukan ulama yang banyak masih mengerjakan bidah. Untuk apa kita banyak menambah dari segi kuantitas tapi segi kualitas tidak kita perhatikan, maksudnya kita kalau bisa memasyarakatkan sunnah nabinya. Apalagi pada masyarakat memang banyak kerusakan, yang paling mendasar kerusakan aqidah. Melalui forum seperti ini terjadi tukar informasi dimana yang kurang dan timpang demi kesempurnaan amar bil makruf nahyu ‘anil munkar. Menegakkan sunnah mencegah bidah sekaligus dalam hal pemurnian aqidah disamping pertahankan aqidah dari arus pemurtadan dimulai dari murnikan kita yang ada ini.

Kemudian evaluasinya berkenaan dengan acara Musyawarah Pleno IV kemarin, jadi untuk kedepan bisa lebih baik lagi?


Itulah dari satu sisi saya puas dengan adanya semangat dari mereka yang hadir dan ide dari panitia dan yayasan, sementara banyak dari hadirin ini tidak tahu eksistensi dan keberwujudan dari tujuan kita itu, sehingga pembicaraannya banyak yang mengambang. Seperti seolah-olah orasi atau kompetisi. Untuk itulah kami menyampaikan rambu-rambu karena pembicaraan kita sudah keluar dari koridor bingkai yang dimaksud. Kita kan bermusyawarah untuk menuju suatu perhelatan akbar, dalam hal ini muzakarah ulama serumpun melayu, kok tiba-tiba melenceng sejauh ini. Itulah ketidakpuasan kita itu banyak diantaranya belum memahami maksud dari program ini. Tapi insya allah ke depan mudah-mudahan mereka mengerti. Insya allah kita bertemu lagi di Musyawarah Pleno ke V DP3MU.


*)Kegiatan sehari-hari selain sebagai pengurus Ponpes Al Manar, juga tergabung dalam Pimpinan Daerah Muhammadiyah dalam Majelis Tarjih Jambi. Berdakwah keliling ke pengurus daerah Muhammadiyah.