MUDZAKARAH ULAMA

ومن الناس والدّواب والانعم مختلفٌ الونه كذلك انما يخشى الله من عباده العلماء انّ الله عزيزٌ غفورٌ ـ

Senin, 19 Januari 2009

SILATURAHIM MAJELIS MUWASHOLAH

Pada tanggal 13-14 Januari 2009 lalu, bertempat di Griya Shaba, Wisma DPR RI Bogor berlangsung Silaturahim Majelis Muwasholah. Majelis ini didirikan sejak 2 tahun lalu oleh ulama dari Yaman, Habib Umar bin Hafidz. Sekitar 700 undangan dari berbagai penjuru negeri hadir dalam pertemuaan ini. Antara lain dari Yaman, Singapura, Filiphina dan juga dari Nusantara. Mereka para ulama ini berasal dari bermacam latar organisasi, namun sebagian besar berbasis di pesantren. Dalam kesempatan ini Dewan Perancang dan Panitia Pelaksana Mudzakarah Ulama (DP3MU) juga diundang atas fasilitasi Sekjen Dewan Imamah Nusantara (DIN), Habib Abdurrahman Assegaf. 
Menurut Habib Umar bin Hafidz, pemakalah tunggal dalam musyawarah ini bahwa Majelis Muwasholah bukan organisasi yang akan menghapus atau menyaingi program-program yang telah dirintis ormas-ormas Islam. Namun sebuah mejelis berkumpulnya ulama dalam menyatukan hati untuk kepentingan ummat Islam. Berikut ini kami tampilkan rangkuman terjemah dari isi makalah beliau pada hari pertama pertemuan tersebut. Dimana isinya antara lain mengenai definisi Khalifah, penyatuan hati, program dakwah, dan program kerjasama.

“Maksud khilafah bukan sebatas meraih jabatan, tapi menunaikan tanggung jawab hak ketuhanan Allah kepada kita. Dalam alquran Surah an Nur ayat 55, dinyatakan bahwa orang yang beriman dan beramal sholeh akan dipilih sebagai khalifah. Akan keluar dari predikat khalifah bila memerangi Syariat Allah. Diantara contoh khalifah adalah Nabi Adam dan Nuh as,. Walaupun Nabi Nuh ditolak qoumnya namun kedudukannya tetap sebagai khalifah.

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (٥٥)

“dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik”.

Kita semua perlu bersatu di segala keadaan. Dimulai dengan penyatuan hati. Dalil yang qhot’i adalah tempat kita bersepakat. Seluruh mahzab Ahlul Sunnah pada dasarnya adalah satu mahzab. Salah satu sebab untuk kita bersatu padu adalah penyatuan dalam misi. Sebagaimana telah berlaku pada salafussholih dengan akhlaq mereka. Seperti antara Imam Syafii dan Imam Malik. Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad bin Hambal. Bagaimana mempertahankan bacaan basmalah di depan makam Imam Abu Hanifah untuk menghormati pendapat beliau. Hal ini patut menjadi contoh bagi kita dalam berinteraksi antara sesama. Berbagai tantangan yang ada akan mengganggu kita jika tidak ada kesepakatan antara kita, khususnya Ahlul Sunnah wal Jamaah.

Perlu kita untuk menampakkan yang baik dan menutupi yang kurang baik atau aib antara saudara. Inilah yang dapat meyatukan semua golongan muslimin. Perlu bagi kita untuk menyiapkan sarana menyatukan ummat, seperti berziarah satu sama lain untuk membicarakan apa yang perlu dilakukan bersama.

Diantara tantangan kita adalah munculnya pendapat yang meyatakan bahwa Dinul Islam tidak mampu menyelesaikan masalah. Sedangkan Dinul Islam datangnya dari Allah untuk kita hambaNya. Tentunya Allah menurunkan aturan yang terbaik untuk hambaNya. Orang-orang yang dipilih Allah sebagai khalifah fil ard, yaitu para Rosul (dahulu) dan Ulama (sekarang) wajib mengetahui tanggung jawab dan peranannya. Tantangan lainnya adalah globalisasi, faham emansipasi perempuan, dan seterusnya. 

Ada beberapa point yang perlu direalisasikan oleh anggota Majelis Muwasholah adalah :
1. Bermuamalah dengan baik kepada setiap individu sebagaimana gambaran al qur-an surah annisa ayat 105 : 

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا (١٠٥ 

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat”.

Fungsi alqur-an adalah sebagai hakim / penentu bagi seluruh manusia (tidak disebutkan hanya bagi mukmin saja).

2. Perlu tempat berupa pondok atau yayasan untuk ta’aruf untuk ulama yang telah berlangsung 2 tahun ini.

3. Saling ziarah antara pengurus ponpes dan santrinya khususnya yang telah ada majelis muwasholahnya di negeri-negeri tetangga kita.

4. Perlu ada orang-orang (ulama) yang menindak lanjuti pergerakan Majelis Muwasholah baik di Indonesia juga di Negara tetangga seperti Brunai, Malaysia, Thailand dan Australia.

Pertanyaan dan tanggapan dari peserta kepada Habib Umar bin Hafidz:

1. Apakah wajib membantu qoum muslimin yang tertindas oleh Zionis Yahudi laknatullah dengan mengirim Mujahidin atau cukup dengan do’a dan obat-obatan?

2. Kami perlu kitab-kitab yang membahas masalah-masalah yang ditulis oleh Syech Nashirudin al Albani.

Jawaban dari pertanyaan pertama tidak langsung ditanggapi pemakalah. Dari sekitar 5 pertanyaan pada sesi pertama, tanggapan terakhir baru mengenai masalah muslim Palestina.

Jawaban :
1. Yang terjadi di Palestina, mereka yang jadi korban hukumnya akan diambil sesuai niyat mereka. Kita perlu membantu dengan harta dan do’a. berapa banyak qoum muslim yang memutus hubungan dengan Allah dan meninggalkan sholat. Qoum yahudi tidak akan masuk ke negeri muslim selama kita tidak meninggalkan Din kita. Demi Allah, qoum yahudi akan terusir dari Palestina seperti gambaran sebuah hadits rosulullah : “nanti pada suatu masa pohon dan batu akan berbicara kepada qoum muslim bahwa dibalik mereka ada orang yahudi dan diperintahkan untuk dibunuh”. Dalam hal palestina kita jangan terburu-buru sebagaimana gambaran hadits tentang qoum terdahulu yang digergaji kepalanya karena mempertahankan iman. Demi Allah Dinul Islam akan sempurna tapi kalian terburu-buru.

2. Bagi ulama dalam menjawab pertanyaan adalah dengan memperhatikan keadaan (psikologis-red) dan kebutuhan si penanya bukan dengan jawaban yang hanya menyenangkan penanya. Ulama digambarkan seperti seorang dokter yang menganalisa penyakit dan memberi obat lalu hasilnya diserahkan kepada Allah. Persatuan dapat dilakukan dalam dua hal yaitu dalam Ilmu (nash qoth’i) dan dalam Qolbi (hati).

Demikian sedikit kutipan dari Majelis Muwasholah. Dari DP3MU yang menghadiri Majelis Muwasholah ini ada 4 orang utusan yaitu Ustadz Dimyati Usman Mq., Ustadz Arbani, Erwin dan Muhammad Syamsi. (abumujadilhaq).









0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda